Ayah-Bunda Aku Mengikutimu

 

“Bunda…..ye… Bunda pulang…” terdengar suara si kecil Sasa berlari menuju bundanya yang baru pulang kerja.

            Suatu ketika Sasa tengah asyik bermain, “Nak… kemari makan dulu yuk..”. Sasa pun  nurut dan bergegas menuju ruang makan. Berlari lincah dan sesekali ia hampir menabrak barang-barang yang dilewatinya.
            Disiapkannya peralatan makan oleh bunda,rupanya si kecil juga mengambil piring dan sendok dengan berlari bolak-balik riangnnya.

Di meja makan pun,ketika dia mengambil makanan,Sasa pun  mengambilnya pula sesuai dengan urutan ketika dia mengambilnya. Bunda Sasa sedikit heran dengan si kecil ini. “tak apa lah,namanya juga anak-anak. Paling Cuma ingin mainan saja.” Pikirnya.

Sesaat bunda Sasa mengobrol dengan suaminya. Sasa kali ini kebingungan,tidak ada teman untuk diajak mengobrol. “nanti kalo ngoblol cendili,kata temen-temen Caca pasti dibilang gila. Aha… Caca punya ide.” celoteh Sasa lirih.
            Diambilnya  sebuah timun,sebatang tusuk gigi, bakso dan potongan tomat. “ini begini,telus begini. Nahh… dah jadi dech!”. Rupanya,Sasa membuat boneka timun untuk teman ngobrolnya.

“gimana kerjanya tadi ,Yah?” tanya bunda Sasa kepada suaminya.
            “gimana keljanya tadi ,Ayah?” suara imut keluar dari mulut Sasa berbicara dengan boneka buatannya.

Sedangkan Ayah Sasa tetap diam dan tidak menjawab sedikitpun. Sebab Ayah Sasa ingat jikalau tak boleh bicara saat makan. Namun bunda Sasa masih terus bertanya.

“eh..eh..eh.. kalo bunda ngoblolnya kan cama ayah,Caca kan lagi ngoblol cama boneka timun ini! Bonekanya Caca kasih nama Cici aja!”

            “Yah,bunda besok mau pulang telat” kata bunda Sasa kepada suaminya lagi.
            “Cici, Caca becok mau pulang telat juga ya!.” Tirunya lagi.
            Bunda Sasa terlihat mulai kesal dengan perilaku Sasa yang menirunya.

“Yah,ko diem terus??” tanya geram.
            “Cici,ko diem telus ?” lagi-lagi Sasa masih meniru.

Ayah Sasa pun masih tetap diam mengunyah walau pertanyaan beruntun masih saja dilempat kepadanya. Melihat perilaku anaknya yang meniru istrinya,sebenarnya ia ingin tertawa. Namun,si Ayah sadar jikalau Sasa pasti  menirunya juga.

“Sasa,bisa diam nggak!” Akhirnya,geram juga bunda Sasa,tanpa pikir dia memarahi Sasa.

 “Cici,bisa diem nggak?” ternyata Sasa masih asik meniru dengan Cici,boneka timunnya.

“Sasa! Bunda bicara dengan Sasa!”
 “Cici,Caca bicala cama Cici.” Tirunya lugu.

”Sasa!!!”

Sasa sekejap langsung terdiam,tak lama ia pun menangis dan lari ke kamarnya. Ayahnya pun mendekati bunda Sasa.

“Astaghfirullah… mengapa aku memarahinya?” gumam bunda Sasa.
 “Bunda! Mengapa Sasa kamu bentak? Dia masih kecil!” tanyanya.
 “kalau saja Ayah tadi menghiraukan saat bunda bicara,pasti takkan seperti ini”

“Memang ayah sengaja diam,karena tak baik berbicara saat makan! Ayah sengaja diam,agar bunda mau mengerti jika Sasa dari tadi mengikuti perilakumu. Kalau ayah menanggapi tanya bunda tadi,maka akan semakin menjadi-jadi Sasa menirukan dan akan jadi kebiasaan buruk baginya.” Jelasnya panjang lebar.

Mendengarkan penjelasannya,bunda Sasa menyesal dan menangis terisak-isak.

“Bunda,kemarin Sasa bilang padaku ketika kutanya kalau besar nanti dia ingin seperti siapa. Jawabnya lugu ‘Ayah,becok kalo Caca udah gede,Caca pengin kaya bunda. Kalena bunda baik banget cama Caca’. Bunda,sekarang temui Sasa ya,kasihan dia!”

            segera ia menemui buah hatinya ke kamar.

“Assalamu’alaikum,Sa?” bunda Sasa segera memeluk putrinya.
 “Wa’alaikumcalam,Bunda. Ko bunda kecini,tadi bunda kan malah banget cama Caca.” Jawabnya sembari menangis.

“kata Ayah,Sasa kalau sudah besar nanti pengin kaya bunda ya?”
 “iya,bunda. Caca ingin ceperti Bunda. Bunda yang baik…. banget cama Caca kaya kemalen itu.”

 

            Wahai ayah/bunda ataupun calon ayah/ibu. Berhati-hatilah ketika berperilaku. Setiap gerak-gerik yang dilihat anakmu,maka ia akan menirumu walau itu hanya sedikit. Setiap tingkah laku buah hatimu,itulah hasil caramu mendidiknya

            Wahai ayah/calon ayah… engkaulah pemimpin di rumahmu,jadilah imam yang dapat memberi contoh baik bagi makmummu… penuhilah citra kerajaanmu dengan kasih sayang,kebijaksanaan dan keadilan ….

            Wahai bunda/calon bunda… walaupun engkau makmum di rumahmu,namun engkau tetaplah pemimpin bagi anak-anakmu ketika imammu tak ada di rumah… ingatlah slalu,wahai bunda… anak-anakmu membutuhkan peran pentingmu baginya….

Dari Ibnu Umar r.a ,Nabi saw.bersabda: Ketahuilah! Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban  terhadap yang dipimpinnya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Ingatlah! Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. (HR Muslim)

Ayah-Bunda aku menirumu…

Baik-buruk perangaiku,aku mengikutimu dulu…

Ayah-Bunda aku menirumu…

Baik-buruk sikapku adalah caramu mendidikku dulu…

Ayah-Bunda aku menirumu…

Maka ajarilah aku hal-hal terbaikmu…

Semarang,14 April 2011 (23.03)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s